Dikamar lama, sibuk ngabisin handbook dan minum jamu, sama ngotak ngatik video.
Hai you all.
I am here di hari ke empat lebaran.
Di tengah pandemi corona ini - aku udah bener bener gusar banget.
You know - aku ngerasa seperti di pilem pilem - nona nona yang udah ga muda lagi dan sudah kemelut dengan persoalan keluarga karier dan cintah - hazek!
Mana dari malam badan ga enak banget - tamu mau dateng ini keliatannya - makanya aku ga puasa - tapi belum dateng dateng juga - bad mood banget.
CRANCKY ALL THE TIME.
Bingung juga. Udah tiga bulan sendiri dan ga ngapa ngapain. Kerja kaga, kuliah kaga, in relationship kaga. Ga ada schedule gua. Ngambang aja begitu. Ga ada yang bisa gua urusin. Random di dalam kekosongan dan kehampa an aja. Ambyar banget jiwa gua.
Padahal kemaren ga parah parah amat begini yak. Happy happy aja - ngejalin hidup yang sungguh sederhana banget - tanpa hampir sebulan ga nyalain internet.
Makanya suka males masang internet - segala WA masuk - segala story di notice. Bete aku tu kadang - males banget. Kalo ada WA masuk - ga di balas - ngerasa bersalah, kalo bales - kadang males banget ngeladeninnya - hoax semua tu pada yang WA.
Hellow.
Aku maksain bikin my tweniforyersold lagi setelah bikin my twenitri.
Ga ada - biar ke kumpul aja celotehan celotahan tiap bertambah umur gitu.
Jadi begini.
I hope my april will be at home - cause i do not doing any project anymore - so it is possible if i stay at home.
But. Because of corona - i can't go home - i am afraid of that i am positif by corona - just afraid. I choose to stay along in my cost - i don't want my family have risk of corona because i am home.
At night - i tiba tiba rindu sangat to my grandmother - tiba tiba ingat cerita semasa aku masih kecik lagi - the different of two my grandmother.
Grandmother dari emake - i called mak uwo.
Grandmother dari bapake - i called andung.
How about grandfather?
Well. I ever saw my grandfather from my father when i was little kid, sebelum masuk TK. At that time - i dont really know who is he - but i remember that bapake taught me to call him atuk. I remember - he was on bed room - he was sicked - but he knew me - called my name - dan i stay beside him. I keep saw him, i was touched, i feel for him - and dont really understand. But the end of the day - i remember again - owa ambil kopiah atuk - owa pake pake dengan girang - saat itu kami kesana pake motor. Pas pulang kami lewat pantai - aku yang masih bocah pendek berdiri di atas motor - sambil manja manja mainin kopiah. Yang namanya kopiah atuk yah, tentu bakalan ga suit sama bocah a.k.a longgar - jadi - lagi ngepasin kopiah sambil lepas tangan, si angin pantai datang nerobos kepala owe - dan terjadi lah insiden kopiah itu jatuh dilariin si angin. Aku saat itu merengek rengek minta ambilin kopiahnya - tapi ni motor kenceng banget - gatau dah ngejar waktu apaan saat itu - pokoknya pas dijalan pada kedesak aja pengen cepet sampe - dan mungkin juga ntu kopiah juga udah terbang kemana mana - habis waktu buat nyarinya - dan dijalan pada banyak mobil gede lagi. Ingat banget dah cerita ini - sampe sekarang pun kalo lagi cerita sama bapake - pasti bilangin atuk pake ingatan 'iya.. atuk yang kopiahnya nadya ambil dan nadya hilangkan itu'. Itu yah, waktu kecil - asli dah - rasanya kesel - apalagi pas tau kabar atuk meninggal - aku merasa bersalah ambil kopiah atuk - masalahnya bukan apa - ga ada kali sampe setengah jam kopiah itu aku ambil udah hilang - mana ambilnya iseng lagi, bukan di kasi sama atuk. Aku juga parnoan - dulu dulu kan ada pantangan tu - berbagai macam pantangan ragam indonesia lah - jadi aku mikir gini, karena kopiah itu jatuh maka atuk jadi meninggal - padahal meninggalnya bukan berdekatan sama hari kopiah jatuh - tapi yang terbesit dalam kepala aku itu gitu - nangis deh tu bocah karena merasa bersalah.
Atuk.. I hope atuk will always have good rest there. Sayang atuk ^_^
..
Corona.
Awal kemunculan berita yang aku dengar sekitar tangal dua puluh an januari.
Pada saat itu aku masih stay di Pekanbaru.
Tak lama kemudian - aku pulang ke Selatpanjang - dalam rangka menjalankan misi stay di rumah terlama selama aku berkecimpang berkecimpung di dunia teenager | wkwkwk, wadaw teenager ノ( ゜-゜ノ) | lalu sebulan kemudian, di awal bulan maret, aku come back lagi ke Pekanbaru - dengan maksud untuk berkunjung ke suatu tempat dan menyelesaikan 'pekerjaan' ku yang 'tertunda' - tentu saja ke Bukittinggi.
Sepanjang perjalanan dari Selatpanjang ke Pekanbaru - berita corona belum terlalu menyebar di Indonesia, tetapi aku udah menjadi was was juga, karena adek aku yang kebetulan habis nemenin dosennya praktek mendapatkan kabar pasien yang di duga corona - tapi publish perihal corona belum gencar gencarnya - dan letak pulau Meranti yang sangat dekat dengan negara tetangga dan sering dikunjungi orang luar, membuat aku waspada saat berada di kapal.
Benar saja - ada beberapa orang yang menggunakan masker - tetapi tidak banyak - bisa dihitung jari - namun aura 'anxiety corona' sudah mulai aku dapati, karena bangku setiap penumpang masih seperti biasa, saling bersebelahan - membuat ku cemas.
Tiga ato empat hari di Pekanbaru - owa niat untuk langsung otw ke Bukittinggi - karena kalender bulan april sudah mulai mendekat. Di hitung hitungan schedule owa - di awal bulan april semuanya harus sudah selesai dan posisi owe udah harus di Selatpanjang lagi.
Ttsapp! Sampe lah kita di Bukittinggi - ga sampe dua hari - rencana kunjungan batal karena ga kondusif. Dan empat hari setelahnya (saat itu corona udah di tahap panic buying), Indonesia mengatakan lock down (eits lock down ato apa ya, yang jelas orang udah mulai dilarang berpergian). Aku pun langsung capcus untuk pulang lagi ke Pekanbaru. Karena kalo misalnya lock down dan isolasi diri - tempat ter better for me, ya di Pekanbaru. Alhamdulillah aku aman sampe di Pekanbaru.
Namun, namun, namun, di penghujung bulan Maret ini keadaan mengenai corona belum menunjukkan lampu hijau. Pemerintah masih berlakukan #dirumahaja. Bener sih. Biar meminimalisir resiko tertular - tapi - schedule yang udah kesusun pada buyar semua, ga bisa dilaksanakan - karena kita masih #dirumah aja.
Aku bosan di rumah aja?
Wah. Tentu tidak sodara sodara. My luv luv activity is stay in my room and doing my hobby - as usual - aku keluar cuma untuk persediaan makanan aja. Memang aku seorang yang suka sekali malala - tapi tempat favorite owa tetap kamar - ibarat kata orang freelance, ya, udah seperti studio lah.
Bhuahaha sedari awal aku adalah manusia hastag #dirumah aja dan gapapa di #lockdown.
Tapi ya gitu - gimana rencana kuliahan adek aku? gimana rencana kuliahan aku? - jika wabah masih berlanjut dan semua masih #dirumah aja? Trus kalo misalnya kuliah yang butuh praktek - masa via daring? - kan ilmu nya ga ajeb rasanya?
Begitula - ini hanya tulisan kegabutan selama #dirumah aja.
Semoga wabah corona ini cepat berlalu. Semoga kita makin berserah diri kepada Allah yang telah menciptakan dan yang berkuasa atas seluruh makhlukNya. Sehingga kita bisa menjadi insan yang lebih baik lagi - mana tau ini teguran atas keselengekkan perbuatan kita di bumi ini, sehingga Allah ingatkan kita melalui wabah corona agar kita kembali mengingat kekuasaanNya. Hanya Allah lah yang berkuasa atas segala mahkluk di dunia ini - termasuk virus corona - bisa saja dengan semakin berimannya kita, Allah cabut wabah ini dari muka bumi - karena mudah saja bagi Allah - kun fayakun - jadilah, maka jadilah ia - begitulah kekuasaan Allah.
Hai. Aku ingin cerita.
Kebetulan aku baru beli TTS (Teka Teki Silang) di toko majalah langganan aku sewaktu masih MTs dulu. Hms - ga deng - bukan toko langganan - lebih ke toko pelarian - kalo kalo di toko langganan aku lagi ga ada stok majalah atau pun TTS. Iya - kebetulan - toko langganan aku udah tutup. Aku baru sadar ternyata toko itu sudah sekitar tiga tahun tutup - sungguh disayangkan - karena toko itu iconic sekali buat aku - udah ngisi masa remaja aku yang belum terpapar gadget.
Jadi ceritanya - aku beli TTS buat adeke aku - biar tu bocah tidak suntuk karena ga ada mainan. Tapi - well - alhasil tidak terlalu usefull - karena aku salah beli TTS. TTS yang aku beli ternyata yang modelan tebak angka - gimana ga boring tu bocah ngisi TTS. Padahal aku mau beli yang tebak kata - karena kosakata bocah bocah di rumah itu worse banget - lebih worse daripada aku - banyak kata kata istilah dan lainnya yang belum pernah didengar ntu bocah - kadang suka gemesh kalo mereka ga tau.
Karena mereka banyak gataunya - aku jadi teringat - kalo dulu aku juga gitu - banyak gatau istilah baku yang harusnya kita tau sebagai pelajar - mak owa aja tau - jangankan emak, nenek owa aja tau - berarti gitu - aku yang kurang membaca dan kurang tepapar dengan baca baca an yang informatif. Ingat banget dulu - mak owa beli in TTS - biar owa pinter kosa kata - trus juga, om owa juga sering beli TTS, malah om owa mahir ngisi TTS angka - jadinya di rumah sering tertatakan TTS yang tergeletak di meja atau keselip di lemari - sungguh tipikal orang dulu, segala barang di selipin di lipatan baju dalam lemari - wakakakak. Dari situ aku mulai suka isi TTS.
Makin hari makin kehabisan TTS. Aku jadi beli sendiri TTS ke toko biro nya - nama tokonya apasik? - ntah mengapa dalam ingatan aku dulu sering bilang toko majalah itu biro - i don't know why - mungkin ingatan error di masa aku remaja - bisa saja.
Toko majalahnya ga gede - kecil - seperti warung. Tapi - kalo udah masuk kedalam - beh mata ga berhenti lirik sana sini - ada banyak macam majalah, buku, koran, sticker, segala rupa ada.
Awal awal aku kesana cuma beli TTS - lama lama aku jadi tertarik sama satu bentukan majalah yang sangat mentereng tertata di bagian tempat kasir toko tersebut. Saking premiumnya - cuma itu majalah yang kinclong bebas dari debu - jumlahnya juga tidak banyak - paling mentok cuma jejer empat buah - sekali sekali di bulan yang spesial, majalah itu dikemas dengan menarik, dikemas dengan giveawaynya. Ada yang giveaway notes mini yang gemush, ada giveayaw dompet kecil tempat narok bedak - pokoknya menarik menarik dan eyecatching. Majalah apakah itu? Ya, tak lain tak bukan adalah majalah aneka yess!
Terkadang aku nyadar - kayaknya yang beli majalah itu di era aku cuma aku deng. Bukannya apa apa ya - harganya mahal bok - kalo ga salah sekitar 22 K. Kalo sehabis beli majalah itu - beh - aku seketika langsung merasa menjadi orang beken. Rasanya keren aja gitu bisa punya koleksi majalah yang kece saat itu. Padahal kan aku cupu bet yak - ga kemana mana - saban hari di rumah ae liatin buku buku yang ada di rumah - untungnya di rumah ada bacaan - yah walaupun bukan bacaan yang menarik minat remaja - tapi aku dulu betah betah aja bacain semua buku buku yang bapake punya. Kan dulu - pas udah sekolah SD - which is sekolahnya full udah ga bisa ikut ikut bapake pergi pergi lagi, aku ga ada keluar keluar mana gitu - di rumah aja - kalo ga sekolah ya bantuin emak, kalo ga ya baca bacain buku yang bapake beli. Aku suka nitip buku dan kaset ke bapake - kalo bapake berangkat. Aku ingat - dulu itu kalo beli buku terlengkap ada di gramedia - dan aku juga ingat kalo beli buku di gramedia itu mahal, dan aku ga tau gramedia itu bentukkannya apaan, hahahaha. Tapi kalo beli buku di Selatpanjang lebih mahal dan pilihannya ga banyak - pokoknya sampe berat hati lah kalo beli buku langsung disana.
Tapi - jadinya - bapake suka beli buku yang kadang tu sebenarnya ga related sama anak teenager macem gua. Pas dia pulang tu - liatin kresek gramedia - beh udah senang hati - berat pula - minimal ada empat buku - tebel tebel - covernya padet dan kece. Tapi sayangnya buku buku itu banyak yang buku buku umum seri bacaan bapak bapak. Alhamdulillahnya setelah gua pahami - ternyata buku itu lumayan bagus, tapi ya gitu, berat - mau tau isinya apaan? - yep - modelannya kayak gini - biografi tokoh populer di dunia - bagaimana mengajari anak bisnis - 40 masalah agama. Beh itu topik berat berat. Tapi pas baru datang dan aku buka buku itu - aku senang - keliatan tu muka aku senang banget dikasi buku sama bapake. Sumringah aja liatin cover exclusive - mukanya muka orang asing - pakaiannya rapi - dan wibawa banget. Pas aku buka dalamnya - aseli! awal awal aku ga ngerti - ada perkenalan biografi pake bau bau tulisan politik, ada pidatonya. Alhasil aku cuma buka bukain sampul buku dan liat liatin isinya sekilas - kalo menarik aku baca, kalo tidak aku susun rapi aja di meja belajar - tapi tetep senang dan bangga banget dibeliin buku sama papa - de best bet la si papake ini. Ada satu buku yang langsung aku baca sampe habis - waktu itu - lagi hits hits nya acara kick andy - jamannya andy f noya masih kribo - aku pun mulai lebih ngeh sama acara kick andy - karena papa beliin buku kick andy itu. Padahal dulu yak kalo udah liatin acara kick andy aku ga ngerti ngerti kali - aku cuma nungguin celetukkan si andy f noya yang menurutku sangat cerdas tapi terkesan humoris - iya aku cuma nungguin momen lucu di acara di kick andy doang.
Yeah.
Di Februari ini gua pulang!
Yeay!
Gua pulang sebulan.
Yeaaapppppyyy!!
Akhirnya gua pulang jadi anak mak bapak gua lagi T.T
Alhamdulillah makasi ya Allah (^o^)
What a beutipol life ¯\_(ツ)_/¯
Di Februari ini gua pulang!
Yeay!
Gua pulang sebulan.
Yeaaapppppyyy!!
Akhirnya gua pulang jadi anak mak bapak gua lagi T.T
Alhamdulillah makasi ya Allah (^o^)
What a beutipol life ¯\_(ツ)_/¯
Life After College. Hm.. Life After College ya..
Graduate kali ini owa rasa tepat untuk menceritakan life after college - ye, life after college versi owa. Emm, tepat ga si? Owa ngerasain tu gimana rasanya menjadi anak gap year after college. Wait. Emang ada gap year after college? Hm, i don't know. Owa sudah dua kali kulian men! Dan sudah sepatutnya dan semestinya owa bekerja - tapi aku belum merasa siap, sodara sodara!
Belum merasa siap? Kok bisa? Sedangkan semua orang itu pada ngincer ngincer kesempatan untuk bekerja. Well. Bener - Aku pun begitu - Ingin bekerja.
Tapi kenapa excited bekerja itu belum tumbuh di owa?
Mikir, mikir, mikir. Mungkin. Ya, mungkin yah - alasannya begini. Flashback lagi.
Owa sebelumnya ga expected, ga kebayang buat kerja di dunia kesehatan, khususnya farmasi. Bayangan aku tentang bekerja itu tidak seperti ini. Okay, lets say - kuliah sama kerjaan itu beda - yah, itulah expektasi berkuliah dan berkerja versi aku waktu itu.
Kuliah sama kerjaan beda? Gimana ya, complicated to explain it. I like to study - apa aja deh - mau belajar apa aja 'yukayuk' aja gitu, ga milih - ga ada merasa beban untuk milih jurusan apa aja. Tapi kalo ngomongin soal kerjaan - aku udah punya bayangan sendiri - punya pro tab nya lah untuk being 'pekerja dalam bekerja itu'.
Nah, loh, gimana?
Intinya ada dua kanal yang seharusnya nyatu buat being succes - malah gua cabang cabangin - karena ketidak tauan aku untuk ngehandle hal tersebut.
Dan di titik ini, aku masih menjadi manusia ngambang. Hilang, semuanya hilang. Karena ya itu tadi, 'sincronize' dalam berkehidupannya ga aktif. Ught ku tak tau ku tak tau ku tak tau T.T
Balik lagi. Waktu aku ngambil jurusan farmasi - well, actually anafarma (analis farmasi dan makanan) - bayangan ke depannya ga ada. Pun, jenis pekerjaan ke depannya pun tidak gua 'ngeh' kan adanya. Apalagi orang orang bekerja yang ada di around me itu notabenenya bukan bekerja di ranah ranah tersebut. Sungguh sangat jauh berbeda. Bener bener nyemplung ke area yang baru - that was what i feel. Ga ada kakak ato abang yang cuap cuap ngasi wejangan, ga dapet info apa apa dari siapapun. Yang bercuap cuap hanyalah myself dengan sekelumit pikiran 'yawdadeh' featuring mamake dan bapake yang Alhamdulillah ga maksa atau pun stop whatever i want at that time, apa aja bakalan diusahain mamake dan bapake supaya owa bisa kuliah. Salut dah buat mamake dan bapake buat being me good as possible as they can.
Huft. Andai saja aku tau.
Argh. Ternyata ku tak tau.
(╯°□°)╯
Kenapa gua bisa bilang kalo gua itu dalam kondisi gap year? Karena nyatanya - 'goals' dalam berkuliah di jurusan farmasi adalah being apoteker. Nah, sementara untuk mulai lagi berjuang masuk pspa itu adanya di bulan juni. Trus sepanjang along that month gua mau ngapain dong? Kerja? Ya bisa aja, tapi kudu ngurus STR S1 nya ke bukittinggi - dan sebelum ngurus STR kudu ukom dulu yang jadwal tes ukomnya ga pasti. Trus mau kerja pake STR D3? Tadinya gitu, tapi aku telat banget ngurusnya - udah bentrok sama graduate S1 farmasinya.
Kadang gua merasa beruntung bisa bebas dan explore yang gua mau dulu sampai saat ini - dan belum di tuntut bekerja. Kadang gua merasa kecil hati karena udah sampai sejauh ini belum bekerja. Dimana - bekerja itu melambangkan kesuksesan aku hidup di dunia, untuk sementara ini.
Andaikan aku tau 'my journey' is being pharmacist. Sebisa mungkin aku tata hidup ku dari SMK dah. Kita bikin selinier mungkin. SMK Farmasi - D3 Farmasi (kalo kepingin D3 dulu) - S1 Farmasi - Apoteker. Huft. Betapa mulus dan indahnya perjalanan karir ku sodara sodara.
Tapi tidak. Perjalananku tidak linier. Ok lah, di waktu SMA - aku bener jurusan IPA. Di waktu D3 - kegiatan kuliahnya asik sih - tapi ya gitu - ga anak farmasi - which is kalo lu anafarma berarti lu ga murni anak farmasi. Di waktu S1 - keteteran memahami si farmasinya dan gua menghiasi kejenuhan berkuliah dengan menjadi a lil bit bolang yang which is gegara itu ortu gua ngedumel mulu bilang kalo gua kebanyakan 'pergi-pergi'. Dan now, mau nyambung apotker - masih tahap otw - kaga tau nyampe ato gimana.
Menyadari hal itu. I feel so loser. But i'm fine. Gua ga depressed - hanya saja yang aku sesalkan kenapa semua itu tidak sincronize. Di tambah lagi keinginanan terindah yang pengen banget gua dapet - leha leha sebulan di rumah emake dan bapake T.T
Jadi - Life after college yang gua dapat sekarang itu - Bingung. Bingung mau ngapain. Belajar ae dulu buat prepare test di bulan juni atau kerja sesuai kondisi lu saat ini. Males banget dengerin 'kapan kerja/ udah kerja/ ngapain aja sekarang'.
Diberdayakan oleh Blogger.
